Sunday, January 3, 2010

baca deh, please! walau panjang dijamin mengharukan

Aku adalah seorang polisi lalu lintas yang jauh dari agama, pekerjaan ini lama-lama menjenuhkan karena hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan. Aku bosen dengan rutinitas sampai akhirnya terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang keras. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian ini sungguh tragis, kondisi mereka sangat mengenaskan. Ada yang sudah meninggal, dan dua dari yang lainnya dalam keadaan koma, kebetulan temanku anak yang pintar dalam agama, lalu ia menuntun untuk mengucapkan “ laailaaha Illallah…” tapi sungguh sangat mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan ini membuaku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang yang sekarat, kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu, aku tak berkutik dengan pandangan nanar, seumur hidupku , aku belum pernah melihat orang sekarat. Temanku terus menuntun keduanya membaca syahadat, tetapiii keduanya terus saja melantunkan lagu. Suara lagu terdengar semakin melemah, lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam disusul orang kedua . tak ada gerak , keduanya telah meninggal dunia. Dalam perjalanan hanya ada kebisuan , hening. Kesunyian pecah ketik atemanku memulai bicara. Ia berkata “ Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama didunia”. Ia jga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Peristiwa ini benar-benar memberiku pelajaran berharga bagiku. Hari iitu aku shalat khusuk sekali. Tetapi perlahan aku mulai melupakan peristiwa itu,aku kembali pada kebiasaan semula tetapi, sejak saat itu, aku memang benar-benar benci kepada yang namanya lagu.
*Kejadian yang menakjubkan
Selang enam bulan , peristiwa menakjubkan kembali terjadi kepadaku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobiilnya mogok di sebuah terowongan. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kemps. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Aku dan seorang kawan (bukan yang pada peristiwa pertama) menuju lekaki tersebut. Dia kami bawa dengan mobil dan segera menghubungi rumah sakit. Dia masih muda, dari tampangnya ia kelihatan seorang yang taat menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami cukup panic, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya didalam mobil, kami baru sadar apa yang ia gumamkan, ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran… dengan suara yang amaaat lemah. “Subhanaullah” dalam kondisi kritis seperti ini , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al’Quran dengan suara yang merdu. Namun tiba-tiba suara itu berhenti , aku menolek kebelakang ,ku saksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat kebelakang. Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal, Aku meneteskan air mata.
sesampainya dirumah sakit banyak orang yang terharu mendengar ceritaku tentang peristiwa menjelang kematiannya, banyak orang yang menangis dan mencium keningnya. Setelah mengetahui keluarga korban, salah sorang saudaranya mengisahkan , ketika kecelakaan sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya, pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang miskin. Ketika kecelakaan terjadi mobilnya juga penuh dengan beras, gula, buah, dan kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset pengajian.Semua itu untuk dibagikan kepada orang yang dia santuni.Bila ada yang mengeluhkan padanya tentang kejenuhan dalam perjalanan , ia menjawab dengan halus “ Justru saya memanfaatkan waktu perjalanan dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Quran, juga dengan mendengarkan kaset pengajian, aku mengharap ridho ALLAH pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan” kata almarhum..
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat, dan aku sungguh seakan-akan sedang mengahdapi hari pertamaku di dunia. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu,serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslin berupa taman-taman surga. Amin
Di kutip dari Buku “Saudariku, Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab?” karangan Abdul Hamid Al-Bilaly

2 comments:

Historia_res said...

artikel yang menggugah jiwa,nice post..terus semangat sob.

Nadyaara said...

makasi Angger... iya sering2 baca blog aku yahhh