Monday, February 10, 2014
Sunday, February 9, 2014
Ketika Semua Ada Jatuh Temponya
Sebagai seorang staff finance, urusan jatuh tempo udah lumrah bgt dan jadi makanan tiap hari. Setiap liat invoice yang pertama dilihat adalah batesnya kapan, kenapa? bayar lebih dari tanggal yang ditentukan PERCAYALAH semua akan jauh lebih ribet. Denda semacam bunga, hubungan menjadi kurang baik, dan tentu aja citra atau nama baik perusahaan akan anjlok (bisa bisa masuk blacklist).
Begitu juga dalam hidup, semua ada jatuh temponya. Tetapkan dengan pasti apa yang ingin diwujudkan, dan berikan ia jatuh tempo. Lebih baik memang menulis dan me-list apa aja yang mau kita capai.
Maka, in shaa Allah arah perilaku akan menuju kesana.. Tujuan dan target target itu sendiri secara tidak sadar akan membentu perilaku. Lebih baik di share kebeberapa orang seperti orang tua , kakak, dan sahabat. Ini penting juga, karena sifatnya seperti nazar. Jika lupa atau melanggar sendiri ada yang bakal ngingetin agar kembali ke track yang udah disusun.
Nah, ternyata ada point yang akan mendorong lebih jauh yang biasanya disebut dengan faktor eksternal. Tentu aja faktor internal sudah ku bahas diparagraf sebelumnya. Faktor eksternal itu sendiri adalah lingkungan dimana beraktivitas. Bergaul dengan orang-orang yang mempunyai visi hidup yang sama, atau teman-teman yang semangat positifnya luar biasa. Akan memberikan daya lebih lama untuk tubuh dan pikiran, menurutku. Mereka hadir seperti powerbank yang bisa mencharge kapan saja. Untuk apa? untuk mencapai tujuan tersebut. Jadiii, selain menentukan ambisi dan target hidup tentukan juga kapan jatuh temponya.
Bukan cuma urusan apa yang ingin dicapai ada jatuh temponya. Sesuatu yang tidak menyenangkan juga harus ada jatuh temponya. Kalo lagi ketimpa kesedihan aku emang kadang ga mau melawan rasa sedih yang ada, tapi aku bataskan. Misal waktu ga dipanggil-panggil lagi sama perusahaan yang aku incer, aku diem trus ngerenungin kesalahan aku pas tes dan membiarkan diriku sedih beberapa waktu. tapi setalah itu, selesai. "Oke raa, cukup sedihnya. sekarang kita mulai lagi yuk" itu yang aku bilang sama diriku.
Jadi, tentukan persis jatuh tempo mimpi mimpi, jika ada yang tidak tercapai. Mungkin bukan mimpinya yang harus diubah. Tapi cara mencapainya yang harus diperbaiki.
selamat berakhir pekan semua :)
Saturday, January 18, 2014
Sabar
Sabar, lima huruf yang mudah diucapkan tapi ga mudah untuk dilakukan. Banyak yang bilang "kesabaran gue udah abis", salah. Sabar yang benar itu ga ada batesannya.
ketika dalam hidup sesuatu berjalan dengan jalan yang tidak aku harapkan, "Sabar, Raa" itu yang aku bisikin sama diri aku sendiri, mencoba memotivasi diri sendiri dan selalu berusaha berbaik sangka.
Allah gak pernah terlambat, tapi kitanya aja yang kurang sabar
Kekecewaan dalam hidup, yang pasti bukan tanpa alasan datang kekehidupan. Ia datang dengan kabar baik. seperti yang selalu dibilang bahwa sesudah kesulitan, akan ada kemudahan.
Sunday, January 5, 2014
Terima kasih 2013
Dua rebu tiga belas. (pake rebu yah bukan ribu) Hahaha..
Tahun yang penuh dengan warna warni
lika liku asem manis kehidupan. Apa aja?
Saturday, January 4, 2014
Menjadi Diri Sendiri
Sering kali mendengar “yaudah, jadi
diri sendiri aja lagi”
, ya memang seharusnya seperti itu kok dalam
hidup ini lebih baik tidak berpura-pura menjadi orang lain.
Ini penting sekali memang, tapi apakah bisa diterapkan disemua aspek
kehidupan kita? Aku rasa tidak. Istilah jadi diri sendiri boleh digunakan
ketika ada hal-hal yang menurut batin kita tidak baik atau salah. Misalnya
tidak menyukai rokok, ga suka jenis music tertentu, tp terpaksa harus merokok ataupun pura-pura suka agar diterima disuatu
perkumpulan. Nah, disinilah Jadi diri sendiri diperlukan. Teman yang baik,
seharusnya tidak memaksakaan kehendak. Atau agar bisa dianggap “label tertentu”
kita terpaksa menyukai hal tertentu yang padahal kita sendiri tidak
menyukainya.
Terus kapan kata-kata tersebut gak
berlaku? Quotes itu relatif, tergantung posisi dan keadaan.
Kayak ada yang bilang “practice make
perfect” tapi ada juga yang bilang “tak ada gading yang tak retak” .Misalkan
aja basicly si A adalah orang yang egois, judes. Nah
sifat kayak gini kan ga bisa dipiara terus menerus kan. Menurutku jadi diri sendiri disini udah ga bsa lagi. Teman yang baik dan keluarga pasti nerima kita apa
adanya? Yaa, tapi berubah jadi pribadi yang lebih baik pasti lebih menyenangkan
nampaknya. Ini bukan
masalah ‘terus gak jadi diri sendiri dong, ra’ bukaan ini masalah ‘hal tersebut
pantas atau tidak dilakukan’. Apalagi
diumur yang bukan belasan lagi kaan. Meskipun ada beberapa hal tertentu yang
ternyata emang susaah dirubah, semangaat terus ya Ra perbaiki diri.
Nah, jangan
sampai ketuker definisi diatas, karena ga semua kata bisa ditempatkan disemua
posisi. Tiap orang harus menjadi pribadi
yang lebih baik lagi. Jangan karena berprinsip “ya gue emang gitu orangnya”
terus ga mau ningkatin kualitas diri. Ini malah ngebuat diri ga berkembang yang ada.
Jadi, aku pribadi harus
berhati-hati dengan istilah istilah seperti itu. Nanti malah bikin hidup
stagnan lagi karena berprinsip sama prinsip yang kurang tepat.
Subscribe to:
Posts (Atom)




